Kembali ke Beranda

Seminar Penguatan Ideologi Pancasila di Pesantren Modern Maqamam Mahmuda

17 May 2026 06:47 WIB Admin YAMUDA
Seminar Penguatan Ideologi Pancasila di Pesantren Modern Maqamam Mahmuda
Pesantren Modern Maqamam Mahmuda kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik dan spiritual, tetapi juga kokoh dalam ideologi kebangsaan. Hal ini tercermin dalam pelaksanaan seminar bertajuk Penguatan Ideologi Pancasila yang berlangsung di aula utama pesantren dan diikuti oleh berbagai organisasi siswa (OSIS) dari sekolah luar serta para santri internal.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman yang beragam, sehingga memberikan perspektif yang komprehensif mengenai pentingnya Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah arus globalisasi yang kian kompleks.



Narasumber pertama, Dr. Abdiansyah Linge selaku Ketua Yayasan Maqamam Mahmuda membawakan materi bertema “Santri Benteng Pancasila: Merajut Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah di Era Digital.” Ia menegaskan bahwa santri memiliki posisi unik sebagai penjaga nilai-nilai keislaman sekaligus keindonesiaan. Dalam pandangannya, tidak ada pertentangan antara agama dan nasionalisme, justru keduanya saling menguatkan.

Namun demikian, ia juga memberikan catatan kritis terkait tantangan era digital yang berpotensi memecah belah persatuan, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta paham radikalisme yang menyusup melalui media sosial. Oleh karena itu, ia mendorong santri untuk menjadi agen literasi digital yang mampu menyaring informasi serta menyebarkan narasi yang menyejukkan dan memperkuat persatuan.



Selanjutnya, narasumber kedua, Profesor Doktor Zulkarnain, M.Ag., membawakan materi bertema “Cendekia Muda Berjiwa Pancasila: Modal Indonesia Emas 2045.” Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa generasi muda, khususnya kalangan pelajar dan santri, memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Menurutnya, visi Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa adanya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan komitmen kebangsaan yang kuat.

Ia juga mengkritisi fenomena degradasi nilai di kalangan generasi muda akibat pengaruh globalisasi dan digitalisasi yang tidak terfilter dengan baik. Dalam konteks ini, Pancasila tidak boleh hanya menjadi hafalan normatif, melainkan harus diinternalisasi dalam pola pikir, sikap, dan tindakan sehari-hari.



Sementara itu, Letkol Inf. Raden Herman Sasmita yang diwakili oleh Mayor Czi Eko Amin Tohari menyampaikan materi tentang “Cinta Tanah Air.” Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa rasa cinta tanah air bukan sekadar slogan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti menjaga persatuan, menghargai perbedaan, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa.

Ia juga menyoroti pentingnya kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat bela negara di kalangan generasi muda sebagai bentuk implementasi nyata dari nilai-nilai Pancasila.

Kehadiran peserta dari berbagai sekolah dan pesantren menjadikan seminar ini sebagai ruang dialog lintas latar belakang yang memperkaya pemahaman bersama. Interaksi yang terbangun tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga membuka ruang refleksi kritis mengenai sejauh mana nilai-nilai Pancasila telah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan pelajar.

Meski demikian, seminar ini juga menyisakan pertanyaan reflektif: sejauh mana kegiatan serupa mampu memberikan dampak berkelanjutan, bukan sekadar seremoni tahunan? Penguatan ideologi Pancasila membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan, seperti integrasi nilai dalam kurikulum, pembiasaan budaya sekolah, serta keteladanan dari para pendidik.

Dengan demikian, seminar ini tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga momentum untuk mengevaluasi dan memperkuat strategi pembinaan generasi muda. Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai memiliki peluang besar untuk menjadi garda terdepan dalam melahirkan generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga nasionalis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi santri yang mampu menjadi penjaga nilai Pancasila sekaligus pelopor perubahan positif menuju Indonesia yang maju, beradab, dan berkeadilan pada tahun 2045.